Tuesday, May 14, 2013

Berhomeschooling Kembali


Berhomeschooling Lagi

January 2013, Daffa masuk sekolah formal.

Semula dia begitu bersemangat, wajahnya ceria akan memulai sesuatu hal yang baru. 
Masuk bulan May 2013, dia redup, lunglai, jatuh sakit.
Jadwal sekolahnya di mulai dari pukul 7 pagi sampai pukul 6 sore. 
Meski tidak padat artinya ada jam istirahat tetap saja membuat Daffa lelah, belum lagi masa penyesuaian yang dia alami. 

Aku maklum kalau semua tidak berjalan sesuai angan, setidaknya kami sudah mencoba.
Aku sudah mulai ragu kalau ini saat yang tepat bagi Daffa memulai sekolah formal karena perubahan emosi Daffa begitu tajam yang aku rasakan, bukannya dia cemerlang tapi malah meredup. 
Daya belajarnya hampir punah, dia membenci semua bukunya, dia tidak membaca lagi seperti sebelum masuk sekolah formal.
Aku patah hati sesaat, tetapi aku ingat dan aku sadari bahwa sekolah formal bukan segalanya. Tapi sekali lagi aku tekankan, tidak semua Sekolah Formal itu buruk dan tidak semua Homeschooling itu paling baik.
Bisa jadi Cuma kami yang mengalaminya.
Kalau masalah penyesuaian diri setiap anak itu berbeda-beda  aksi dan reaksinya. 
Bagi Daffa berbaur tidak masalah karena dia ini mudah berbaur serta melebur dengan dunia baru. 
Bahkan cenderung jadi pemecah keheningan alias melumerkan suasana yang dingin. 
Daffa cenderung usil dan jahil menggoda temannya tapi di balik itu semua dia sedikit perasa terbukti ketika rambutnya digunting Kepala Sekolahnya di depan teman-temannya, dia merasa malu dan terpukul. 
Sebagai Ibu aku harus menguatkan hatinya, membesarkan hatinya yang meredup itu. Beberapa kali aku bilang padanya bahwa kejadian yang tidak kita inginkan itu kadang tak terhindarkan lalu membuat kita kecewa tetapi dari kejadian itu kita jadi belajar banyak hal, kekecewaan itu tidak selamanya tidak berguna justru kekecewaan itu ajang belajar kita untuk kuat dan membuat lebih mawas diri tentunya, mengajarkan pula agar tidak berbuat hal yang sama yaitu mengecewakan orang lain.
Dari berhomeschooling sampai sekolah dasar, melalui ujian persamaan Paket A dengan riang tanpa tegang lalu bersekolah formal di SMP, merasakan sensasi bersekolah formal, berbaur bersama teman-teman yang itu saja selama berbulan-bulan. 
Pada akhirnya Daffa merasakan seperti ini(ini hasil curhatnya dia padaku) :  “Ma, aku capek koq belajarnya cuma di buku paket itu saja, belum lagi kalau ada jam kosong, apa hebatnya mencatat sesuatu hal yang sudah ada di buku paket, ah aku buang banyak waktu”.
Cukup sudah selain menarik napas panjang, aku coba diam menelaah semua curhatnya.
“Ma, aku mau homeschooling lagi ya, aku mau belajar Bahasa dan Sastra Inggris juga belajar gitar sedetailnya”.
Bismillahirrohmanirrohiim, mari kita mulai Nak.

Catatan : Ini semua yang kami alami nyata tapi sekali lagi bukan berarti semua sekolah formal itu buruk atau tidak cocok bagi anak-anak begitu juga bahwa tidak semua homeschooling itu cocok dan paling baik bagi anak-anak tapi keputusan yang sudah dibuat itu ada baik buruknya dan sangat wajib diperjuangkan untuk diwujudkan sekuat tenaga sama-sama berjuang dalam pendidikan anak-anak.

Friday, October 12, 2012

Menjelang Ujian Kejar Paket A

5 Mata Pelajaran yang akan diujikan di Ujian paket A (kesetaraan Sekolah Dasar) adalah  :
1. Bahasa indonesia
2. PKn 
3. IPS
4. IPA
5. Matematika.

Ujian akan berlangsung tanggal 15 Oktober sampai 17 Oktober 2012
Kami sudah biasa latihan soal dan kunci menghadapi ujian adalah sering berlatih mengerjakan soal-soal ujian.
Sisanya tentang taktik yaitu mengerjakan soal yg mudah dahulu lalu baru mengerjakan soal yg cukup sulit utk menyiasati waktu.
Ditanamkan rasa percaya diri dan rileks saja.

Friday, July 20, 2012

Hari itu Akan Segera Tiba

Negara Tropis, indahnya berlimpah sinar matahari.


Beberapa waktu yang lalu mestinya Daffa menjalani ujian akhir di sebuah PKBM tapi digagalkan sepihak oleh orang yang dititipin pesan oleh si Ketua PKBM, seseorang ini tidak menyampaikan pesan dan jadwal yang seharusnya didapat Daffa. Tapi sudahlah memang belum waktunya saat itu.


Dan di Bulan ini kami memulai di PKBM baru di sekitar tempat tinggal kami saat ini.
Jadi ini kabar gembira juga bagi pelaksana pendidikan rumah, jangan ragu melaksanakan pendidikan dasar di rumah karena Pemerintah mewadahi kita untuk mendapatkan ijazah Paket A (setara dengan tingkat kelulusan SD=Sekolah Dasar).
Tidak perlu khawatir kalau kelak si anak akan pindah ke jalur formal di jenjang berikutnya karena Pemerintah MEWAJIBKAN semua sekolah menerima murid lulusan PKBM.
Dan Sekolah Dasar tidak mau menerima Siswa langsung kelas 6 karena untuk menghasilkan nilai si Ijazah SD didapat dengan cara menjumlah semua nilai dari kelas 4 SD sampai kelas 6 SD lalu nilai-nilai ini direkap dan dilaporkan pada DikNas setempat.
Jadi kalau memang bertekad menempuh pendidikan dasar di rumah tidak usah ragu, tuntaskan saja lalu ketika sudah siap hubungi PKBM setempat, bergabunglah 3 bulan menjelang Ujian Akhir Paket A.
Segera datangi PKBM setempat untuk melihat jadwal ujian dan kelas intensif karena jadwal ujian Paket A/B/C itu diselenggarakan 2 kali dalam setahun.
Biaya tergantung PKBM setempat.
Data yang dibutuhkan juga sederhana yaitu 2 lembar foto copy Akta Kelahiran dan beberapa lembar pas foto dengan ukuran yang sudah ditentukan PKBM setempat, pas foto harus berlatar belakang warna biru.
Mengikuti kelas intensif selama 3 bulan.
Lalu Ujian itu pun akan tiba.




Pesan dari penulis yang sedang berbagi cerita ini adalah : Jangan ragu meneruskan Pendidikan Dasar di rumah, birokrasi bukan halangan karena sudah ada jalur yang sudah disediakan Pemerintah saat ini.
Selamat Berjuang

Wednesday, May 23, 2012

Kegiatan Ekstra untuk Daffa yang Tenaganya Ekstra

Sejak kecil bahkan bayi Daffa sudah menunjukkan tanda-tanda kalau dia lebih suka terjaga daripada tidur.
Tidur larut-nya itu jadi masalah buat aku, kalau ditidurkan siang dia pasti baru bisa tidur pukul 2 pagi, sudah tentu dia bangunnya pukul 9 pagi.
Sering kena omelan mamaku karena aku koq tidak bisa mengatasi atau mencari jalan keluar untuk masalah ini.
Beberapa cara sudah aku coba termasuk ngajak dia jalan menyusuri jalan sekitar tempat tinggal kami, bermain kejar-kejaran, melompat, mengepel lantai dan sebagainya.
Tapi tetap saja dia tidak ada capeknya.
Setelah mengerjakan beberapa worksheet, aku selalu mengajak dia bermain sampai capek (menurutku) tapi tetap dia segar bugar.
Sempat aku berpikir apa karena dia minum teh manis hangat, aku hilangkan kebiasaan meminum teh manis.
Aku biasakan dia minum air putih.
Hasilnya tetap saja.


Dan pencerahan baru dimulai 3 bulan ini.
Dia ikut latihan bela diri.
Hasilnya, dia mulai teratur dengan jam tubuhnya.
Aku juga sering bercerita tentang jam tubuh itu butuh waktu kita tidur untuk si tubuh melakukan tugas pembersihan.


Aku tersenyum lega, aku bisa mengatasi masalah yang ada meski butuh waktu.
Alhamdulillah.

Monday, February 20, 2012

Materi Baru

Negara tropis, sejuk dihampiri hujan yang sedang rajin berkunjung.


Begitu seringnya dapat pandangan aneh hanya karena kami tidak sekolah formal, membuat saya harus menerapkan materi baru untuk kami berdua.
Materi baru itu adalah belajar tentang menerima pandangan skeptis dengan damai.
Materi ini sudah 2 minggu ini uji coba.
Seperti apa materinya?
Sederhana saja, saya & Ananda Daffa harus membaca buku-buku motivasi dan rajin mendengarkan pengajian nya Ustd. KH Yusuf Mansur.
Minggu lalu kami membaca kisah-kisah kegigihan orang-orang yang dianggap aneh pada awalnya karena ide mereka yang tidak biasa.
Terus terang pada mulanya Daffa ogah-ogahan, tapi ya gitulah Mamanya pasang muka lempeng dan gak merasa sensi jadi menyuruhnya membaca.
Ajaib, satu halaman dia lalui tanpa senyum. Mamanya tetep pasang muka "harus baca".
Dua halaman dia lalui lalu sampai 30 halaman tanpa henti.
Materi ini sekarang jadi salah satu favoritnya.
Menjadi berbeda bukan berarti salah ( *inget banget Ines ngomong seperti ini ke aku ketika memulai HE*)
Dan Daffa sudah mulai bisa tidak merengek lagi pada saya tentang pandangan orang padanya...Kau memang berbeda anakku, karena kau istimewa. Dan semua ibu di dunia ini menganggap anaknya istimewa koq.
Tapi aku tidak begitu terlena, kau tetap harus mau diasah ya Nak.

Sunday, February 19, 2012

Home education kami

Penjelasan Penuh Makna


T : Lho kamu homeschooling ya
J :Iya
T :Wah pinter dong
J :Gak juga, cuma berani aja
T : Terus gimana prosesnya
J : Panjang dan prosesnya ya kayak kamu juga koq
T : Lho aku gak homeschooling buat anak-anakku koq, apanya yang sama
J : Ya rasanya, biasa aja kayak orang belajar naik sepeda, begitu bisa ya naik aja mau kemana ya dateng aja ndak perlu ikut-ikutan kemauan orang lain.
T : Ooo jadi kamu juga merasakan resah ku tentang ini anakku gimana besok gitu ya
J : Iya lah gak perlu bohong tentang itu tapi aku sudah damai gak ribut memaksa anakku.
T : Lha anak-anak kan harus diarahkan
J : Diarahkan itu beda dengan dipaksa lho
T : Ya demi disiplin
J : Disiplin itu diresapi kegunaannya bukan dipaksa untuk membentuk malah buyar pas lepas dari sistem
T : Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya ini aku harus ngantar anakku les science buat ikut olimpiade.
J : O silahkan semoga itu pilihan anakmu
T : Ini dia dipilih gurunya karena ankku pinter nilai sciencenya bagus
J : Anakmu rajin dan kemauan sendiri ikut les-nya kan ?
T : Ya enggak juga, kadang ya aku paksa kalau dia malas.
J : Ooo, semoga sukses ya.


Ini Tanya jawab tentang homeschooling dan sekolah tanpa merendahkan satu dan lainnya.
Cuma obrolan.
Ditulis oleh penjawab dari tanya di atas, seorang ibu yang cuma lulusan Diploma ekonomi UB yang tidak ikut-ikutan role model apa untuk home education putranya, tidak banyak berteori tapi banyak langsung mempraktekan bagaimana home education dengan segala perjuangannya.
Kita sama-sama berjuang.

Ini Hasilnya (masih awal banget)

Negara tropis, hujan badai datang tak menentu, damai syahdu dalam Rahmat Allah Semata.


3 Bulan ber-EF
ini hasilnya secarik kertas yang masih sangat tiada artinya dengan hamparan ilmu yang Mas Daffa harus pelajari.
Ini hanya secarik kertas...saat itu harganya per paket dgn waktu tempuh belajar 3 bulan seminggu 2 kali pertemuan dan beberapa kali terhalang hujan badai adalah Rp 1.350.000.
Program ini yang ananda ambil


Masih banyak hal yang harus dipelajari, masih banyak latihan-latihan yang harus dipelajari Mas Daffa.


Aku tidak bisa berkutik kalau Mas Daffa sudah duduk diam melihat detail film kuno Karate Kid 1-3 punya Bapak Ralph Machio,  dia bisa hapal semua dialognya.
Dan aku harus terima dengan lapang dada kalau cara belajar Mas Daffa begitu.




Ini secarik kertas itu dan isinya
Mas Daffa harus banyak membaca ya Nak
muuaahhh
Mama sayang kamu

Tuesday, September 13, 2011

Sepenggal Catatan Bantahan untuk yang Mengatakan Homeschooling Itu Gak Asik

Negara Tropis Dihempas Banyak Angin Kesejukan Meski Didera Panas.


Sempat tidak posting beberapa kegiatan Daffa karena saya sibuk membereskan banyak hal, dan ternyata gak beres-beres juga alias sok sibuk karena ketambahan murid baru di kelas taman bermain, siapa lagi kalau bukan Menara.


Kegiatan Daffa penuh dengan jadwal yang dia buat dan terkesan seenaknya sendiri kalau dilihat hanya dengan mata telanjang, tanpa merasakan kemajuan komunikasinya, tanpa merasakan cara dia mengatasi masalah dan sikap dewasanya dianggap bukan asahan dari Homeschooling sama mamanya ini  *ngamuk.com*.
Kalau mau mereka (yang maksa Daffa supaya sekolah formal lho ya) membuka mata mestinya merasa kalau kemajuan Daffa luar biasa, cara dia yang mengemong Menara, bahkan menenagkan papanya ketika panik dan bersikap menerima apa adanya, mereka pasti sadar. 


Aku sempat senewen hanya karena Daffa dianggap seenaknya sendiri hanya karena bangunnya seringkali siang, padahal semalaman dia belajar dengan riang bagaimana listening English via lagu favoritnya, belajar mengotak-atik pemindahan data dari komputer ke handphone-nya atau sebaliknya.
Sisanya aku baru sadar bahwa untuk memisahkan emas dari logam yang lainnya butuh suhu yang tinggi, artinya ini semua tempaan yang kami hadapi untuk lebih baik.


Kesenewenanku terbayar begitu mengetahui hasil replacement test Daffa di EF, anak tanpa sekolah formal ini biosa disejajarkan dengan anak SMP kelas akhir, aku tersenyum penuh syukur, ternyata Allah menyapaku dengan caraNya yang indah diawali dengan kemampuanku yang diragukan dan aku tidak membantah sedikitpun meski awalnya sedih ternyata jawaban akhirnya indah.
Jadi ini bantahanku untuk yang mengatakan homeschooling kami gak jalan, homeschooling kami gak asik bla bla bla, yang penting bagi kami ada hasil yang bisa dibanggakan.


Daffa, maju terus Nak, kamu luar biasa. Mama Loves You, Dear....

Saturday, May 21, 2011

O Jadi Seperti itu Sekolah Favorit Ya



Negara Tropis, panas tapi berubah jadi sejuk ketika aku mulai tahu pola pikir Daffa.

Daffa tanya tentang sekolah favorit itu apa setelah tahu beberapa temannya yang SD sedang dipingit ortu mereka masing-masing karena mau ujian.

“Ma, sekolah favorit itu apa ya Ma?”, tanyanya santai dan polos. 
Aku menjelaskan bahwa anak-anak yang akan menghadapi ujian itu harus dipersiapkan dengan menuntut mereka belajar lebih banyak dan harus menguasai materi yang akan diujikan supaya dapat nilai bagus dan bisa masuk sekolah favorit, sekolah yang diidam-idamkan banyak orang karena murid-muridnya yang masuk nilai-nilanya bagus-bagus. 

Dan mulailah pertanyaan tak terduga bahkan kesimpulan yang menurutku di luar dugaan muncul dari Daffa, begini :
“O jadi sekolahan yang menjadi favorit itu sekolah yang hanya menerima anak-anak yang punya nilai hasil ujian yang baik gitu ??? itu bukan sekolahan favorit Ma, itu sekolahan malas, bukannya semua anak itu berhak memilih sekolah, kan dari sekolah itu jadi pinter, yang bodoh jadi pintar, kan tugasnya guru menerima semua murid yang ingin sekolah di situ, ANEH YA MA”.

Kesimpulan dari Daffa yang masih umur 10 tahun 6 bulan tentang sekolah favorit dan syarat-syarat untuk bersekolah di situ.

Terus aku tanya balik ke Daffa :
“Jadi menurutmu sekolah favorit itu seperti apa ?”, tanyaku sambil nahan geli dan pengen meluk-meluk cium saking gemesnya aku padanya hihihi  :D

Terus dia jawab :
“Sekolah favorit itu adalah sekolah yang bisa membuktikan dengan menghasilkan anak-anak yang nilai ujiannya jelek itu punya kemampuan terbaik di bidang yang lain atau malah bisa memperbaiki nilai jelek anak itu gitu lho Ma”.

SELESAI sudah sesi pembahasan sekolah favorit yang ternyata bukan favorit sejati.

Tuesday, May 10, 2011

Belajar dengan Penuh Minat itu Ajaib



Anak-anak yang menjalani homeschooling selalu siap uji artinya begini, Daffa selalu diuji secara lisan  oleh seseorang yang bertanya dia kelas berapa dan bersekolah di mana setelah menjawab bahwa dia tidak sekolah formal dan dia berhomeshooling. 
Maka mulailah Daffa menjalani ujian lisan, hehehe.
Dan aku salut pada jiwa sportifnya Daffa, dia akan menjawab tidak bisa dan belum belajar tentang hal itu kalau ditanya tentang hal yang memang dia belum tahu dan belum belajar  tentang hal yang ditanyakan seseorang itu dan hal ini malah menguntungkan Daffa, dia malah belajar dengan proaktif, Daffa tidak menjawab seperti anak yang bersekolah formal kebanyakan, anak-anak sekolah formal kalau aku tanya tentang hal yang memang mereka belum bisa maka jawabannya seperti ini, “Saya belum DIAJARI….”.
Mestinya jawab saja saya belum belajar tentang hal itu. Dari jawaban mereka saya jadi tahu bahwa belajar secara mandiri dengan segala keingintahuan itu jauh lebih baik karena menghindarkan dari ketergantungan untuk DIAJARI.
Saya kadang ingin juga menguji anak-anak yang bersekolah formal tapi saya sudah terlalu kenyang dengan jawaban : "Saya belum DIAJARI blablabla... atau di sekolah belum diajari tentang itu...". Selalu begitu jawabannya dan jawaban itu ajaib seperti seragam.
Belajar dengan bahan yang biasa disediakan tanpa dipancing untuk menggugah keingintahuan mereka itu bahaya, membuat mereka kelak memahami ilmu secara terpaksa, sampai jenjang tinggi jadi DISUAPI bahan yang harus dipelajari.

Daffa belajar  Bahasa Inggris juga secara langsung melalui youtube, dia menyimak pronounce dan tulisan  dengan penuh minat serta serius. Begitu pula dia belajar banyak bagaimana membaca peta dan mengenal negara lain dari buku dan tayangan National Geography. Memang kami tidak memakai semua kurikulum seperti anak-anak yang bersekolah dasar lainnya. Dan itu tidak apa-apa kan ??? hihihi
Daffa belajar bahasa asing dengan begitu cepat, dia juga belajar matematika sewajarnya, pada umumnya. Beberapa kali pernah Daffa menghadapi ujian yang tidak mutu (hihihi sewot emaknya) dari orang yang tahu kalau Daffa homeschooling. Begini ceritanya : “Daffa homeschooling ya?”, tanyanya sok akrab dan senyum licik. Daffa mengangguk percaya diri. “Ok, kalau gitu 2011 X 4231 berapa hayo ?”, tanya si orang sok akrab ini. Daffa menjawab dengan tegas : “Coba Om hitung aja pakai calculator kalau Om kasih waktu saya ya saya hitung dulu, boleh pinjam kertas dan bolpoin?”, jawab anakku tegas. Memang bukan hasil perkalian yang dia jawab tapi cara mempergunakan calculator dia sebutkan sebagai jawaban dan anakku sportif juga kalau dia diberi waktu menjawab ya dia minta dipinjami kertas dan bolpoin untuk menghitung secara manual. Lucu-lucu orang yang menguji Daffa seakan mereka menguji keegoan mereka sendiri. Homeschooling bukan sulapan, Daffa berproses dengan begitu terbuka terhadap pendidikannya melalui homeschooling kenapa mesti ditodong hasilnya seperti magic saja oleh orang-orang yang cuma ingin mencari kelemahan pendidikan mandiri yang sebenarnya mereka inginkan. Hihihi lucu.

Homeschooling itu mendukung anak-anak untuk belajar dengan penuh minat secara mandiri . Menghasilkan keajaiban yaitu anak-anak riang dan begitu tertanam kuat pengetahuan yang dia dapat.

Thursday, May 5, 2011

Kenapa Mesti Bingung Ijazah Sarjana Kalau Masih SD

Karena Facebook aku jadi bertemu dengan banyak teman lama dan 
beberapa teman baru yang sama-sama menjalankan Home Education.
Nah ini, justru dari teman lama itulah aku merasa hal dasar tentang edukasi  selama ini adalah untuk memperoleh ijazah.


Begitu mereka tahu aku adalah praktisi homeschooling untuk 2 putra kami, reaksi pertama dari mereka adalah banyak bertanya tentang ijazah. 
Karena menurut mereka dengan pergi ke sekolah formal hal pasti yang mereka dapat adalah ijazah. 
Catatan ya bukan semua temanku yang bertanya demikian, beberapa orang saja tapi dominan hehehe. 
Semula aku selalu menjawab sesuai dengan yang aku tahu, bahwa Pemerintah memberi celah berupa ujian kesetaraan, lha koq aku balik ditanya tentang akreditasinya halah-halah, jujur saja pertanyaan-pertanyaan yang pertama memang ingin tahu lalu berubah seolah jadi soal ujian yang harus aku jawab ini malah membuat aku geli.
Bagaimana tidak geli lha Daffa aja belum butuh ijazah SD apalagi ijazah sarjana.
Mbok ya silahkan aja kalau bertanya itu yang rasional, yang sesuai untuk kebutuhan pengetahuannya, kalau cuma buat memuaskan diri dari rasa bahwa yang sekolah formal itu lebih pasti ya tidak perlu cari pembanding pada praktisi homeschooling. Jalani saja yang memang jalan Anda, seperti saya menjalani semua untuk Daffa penuh dengan keyakinan.


Kenapa mesti bingung ijazah sarjana kalau masih menjalani sekolah dasar.
Yang mendasar saat ini adalah hak belajar Daffa aku penuhi, dan dia belajar secara terbuka untuk tahu jenis-jenis pekerjaan termasuk belajar apa itu wirausaha.

Tidak Pergi ke Sekolah Umum Bukan Berarti Tidak Berpendidikan.

Negara Tropis, diguyur hujan penuh kesejukan.

Lama tidak update Blog catatan sekolah rumahnya Daffa  J. Ibunya masih terlena dengan pesona Daffa yang begitu cepat menyerap pelajaran yang dia suka. Daffa suka melihat youtube lagu-lagu favoritnya, dia pilih yang ada teksnya lalu dia mengikuti si penyanyi melafalkan lagunya. Ibunya tidak pernah mengatur dia harus belajar apa hari ini, dia Cuma bertanya dengan pertanyaan sederhana. “Belajar apa kita hari ini ?”. Dan tahukah Anda ?. Pilihan anak-anak tanpa terpaksa memilih itu adalah pilihan hebat yang mereka jatuhkan dan mereka jalani dengan serius. Sederhana tapi mendasar. Beberapa orang yang melihat cara “bersekolah” kami menganggap saya gila, di jaman milenium ini ada seorang ibu yang tidak cukup pintar malah tidak menyekolahkan anaknya, dan jawaban kegilaan saya adalah : TIDAK PERGI KE SEKOLAH UMUM BUKAN BERARTI TIDAK BERPENDIDIKAN. Dan jawaban saya semakin nyata dengan perilaku Daffa   J.

Daffa belajar mendengarkan dengan baik, artinya dia memang harus diam ketika orang lain berbicara, dia tidak ribut sendiri ketika ada di sebuah pertemuan di persatuan keluarga-keluarga di daerah kami. Dia berbaur dengan anak-anak lain tapi tidak bertingkah laku berisik seperti anak lain yang justru pergi ke sekolah. 
Aneh ya, yang bersekolah malah jengah untuk mendengarkan orang lain. 
Siapa yang berpendidikan ?. 
Contoh nyata meski sederhana itu membuat saya yakin kelak Daffa baik-baik saja. 
Dari kelemahan-kelemahan kami yang digunjingkan orang lain saya justru belajar bahwa kesalahan-kesalahan kami itu bisa diperbaiki. Ada seorang Ibu muda yang menyekolahkan putranya di sekolah yang cukup mahal melihat Daffa ketika berbicara tepatnya ketika Daffa mencoba meniru gaya berbicara bahasa jawa, lalu  si Ibu muda itu yang tidak menyadari saya melihat reaksinya, dia melontarkan ke Ibu muda lainnya yang sedang disebelahnya , “Uh sok ya”. 
Apa saya marah?.
Tidak saya merekam apa kesalahan dari cara Daffa berbicara tadi, ternyata cara mengakrabkan diri yang Daffa pilih itu salah. Saya tidak marah malah saya belajar bagaimana cara menyampaikan hal ini ke Daffa. Yang lucu saya malah menangkap Ibu muda ini lupa kalau pergi ke sekolah saja tidak cukup untuk jadi berpendidikan, dia jelas lupa mengajarkan keteraturan serta tingkah laku terhadap putranya. Putra sulungnya tidak bisa diam sejenak dengan tenang ketika diajak ke sebuah pertemuan, di usia 8 tahun tapi tingkah lakunya dibiarkan seperti anak 2 tahun. Dia pikir pergi ke sekolah umum sudah cukup mendidik putranya. Berbeda jauh dengan Menara(adik Daffa yang baru berusia 3 tahun), dia pun bisa tenang seperti Daffa meski tidak pernah DISEKOLAHKAN oleh ibunya.


Pesan buat yang menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah formal, anak-anak juga butuh dididik oleh orang tuanya. Jangan hanya karena mereka sudah sekolah malah anda-anda tidak meyisipkan pesan pendidikan dasar mereka, ingat pendidikan itu hak mereka.


*Daffa, Mama Loves You, Always*

Tuesday, March 1, 2011

Ma, ada pekerjaan buat Mama.

Tadi sore Daffa pulang dari rumah Evan, teman mainnya.
Seperti biasa dia bercerita tentang apa saja yang dia kerjakan bersama teman-temannya.

Home Education itu warna-warni
"Ma, aku tadi gak main bola, lapangannya becek jadi aku main ke rumah Evan, tau gak Ma, pas aku mbenerin game di komputernya Evan, aku kan baca Englishnya dan Mamanya Evan denger, dan Mama Evan tanya aku sekolah dimana, aku jawab aku homeschooling sama Mamaku dan aku belajar sesukaku", cerocosnya.
"Terus apa reaksi Mama Evan, Kak ?", tanyaku balik
"E, Mamanya Evan pengen Evan les ke Mama lho Ma, aku jawab aja, bisa aja Tante tapi tergantung Evannya sendiri, mau atau tidak, kan belajar itu gak bisa kalau dipaksa,lumayan kan Ma, Mama bisa dapat duit dari memberi les itu", jawab Daffa, sepintas entheng tapi bagiku itu luar biasa.

Beberapa hari lalu aku sempat ijin ke Papanya Daffa kalau sebaiknya aku bekerja juga agar menghasilkan uang tambahan untuk kami, ternyata Daffa begitu mikir bagaimana kalau ditinggal Mama kerja seharian.
Maka dari itu tawaran dari Mama Evan dia terima saja.
Aku merasa anakku bukan hanya tumbuh dalam jiwa belajarnya tapi dalam menjawab persoalan nyata dia bisa lugas.
Ini masih hasil awal dari Home Education kami.
Bagiku sudah luar biasa hasilnya.



Monday, January 31, 2011

Matematika : Pecahan

"Mama, seberapa penting kita tahu fungsi pecahan dan penerapannya", tanya Daffa begitu aku sodarkan materi pelajaran kami kali ini.
Aku cuma tersenyum berusaha mencari jawabnya.
"Ehm begini persisnya seperti kita membagi Pizza menjadi beberapa potong untuk beberapa orang", jawabanku spontan.
Ketepatan jawabanku entahlah tapi aku jadi berpikir bagaimana dulu aku sibuk menghitung penambahan pecahan yang harus disamakan dulu dan fungsinya pada hidupku sekarang.
Entahlah.


Kami belajar pecahan sederhana, membagi gambar, membuat potongan pizza, tertawa bersama, menertawakan ketidak-adilan ketika kurang tepat menghitungnya.
Belajar tetap riang.

 Foto dari :  tempat belajar pecahan

Sunday, January 30, 2011

Belajar secara spontan

Belajar dengan riang gembira tanpa batasan
Akhir-akhir ini suamiku sudah tidak banyak tanya secara menghakimi tentang home education yang kami jalani. 
Karena semua proses belajar-mengajar hanya melibatkan aku dan Daffa (karena suamiku bekerja sehari penuh), membuat suamiku kadang sering protes kenapa pelajaran kami tidak pakai KurNas saja.

Yang membuat suamiku tidak bertanya lagi adalah action Daffa.
Malam sebelum anak-anak tidur, kami mendongeng bersama di sela-sela ndongeng itu aku bertanya tentang Justin Bieber, spontan Daffa menyanyi lagu One Time lengakap dan dengan pronoun yang benar-benar seperti Bieber menyanyi, English-nya jelas bukan ngawur.
Aku senyum lalu aku cium.
"Lho Kak, koq bisa hapal gimana caranya?", tanya Papanya
"Yo, gampang ae Pa, tinggal cari lyricnya di internet lalu aku nyanyi sambil nonton Youtube-nya, gampang kan", jawab Daffa santai
Papanya melirik ke arahku, aku langsung jawab dengan sedikit mengena
"Apalah arti kurikulum kalau tidak meresap ke ingatan si anak", jawabku.
Suamiku cuma tersenyum penuh makna, artinya aku sudah terbebas dari intimidasi darinya yang terus menerus resah bagaimana Daffa kelak.

Belajar dengan spontan tanpa sekat-sekat malah membuatnya melesat.
Belajar tanpa tekanan malah membuatnya mengerti apa yang sedang dia pelajari. 
Foto dari sini

Thursday, December 16, 2010

Afrika 2

foto Suku Masai dapat dari  www.epochtimes.co.id
Hari kedua belajar Afrika, kami pergi ke Afrika Timur. Di sana kami bertemu Suku Masai, mereka adalah penggembala ternak. Mereka mengenakan ornamen indah seperti yang dilakukan oleh para leluhurnya berabad-abad lalu. ]
Sabana, sebuah padang rumput kering terbuka, menyelimuti daratan Afrika Timur. Kawanan binatang, seperti jerapah dan zebra, hidup di sini.


Foto Taman Safari di Afrika ( Foto dari http://stat.k.kidsklik.com/data/photo)
Beribu-ribu turis mengunjungi taman satwa-liar, tempat binatang-binatang dilindungi.
Sayangnya, banyak binatang ini yang dibunuh oleh pemburu gelap hanya untuk diambil gading dan culanya. Beberapa binatang itu kini terancam punah.
Topeng dari Kongo,foto dari http://blog.africanartonline.com
Kami ke Kongo untuk melihat beberapa topeng yang digunakan masyarakatnya untuk mempraktikkan kepercayaan tradisional dari leluhur mereka. 






Lalu kami ke Pulau Madagaskar, di pulau ini kami melihat pohon yang berwujud aneh, yang disebut baobob atau pohon botol.
Ini Pohon Baobob.Umurnya bisa mencapai seribu tahun (foto ini diambil dari http://static.panoramio.com)










Batang pohon ini menyimpan air untuk persediaan pada musim kemarau.


*bersambung ke Afrika 3*

Wednesday, December 15, 2010

Pergi ke Afrika 1

Afrika.

Hari ini kami belajar bersama tentang Benua Afrika.
Kami memulai dari Afrika bagian Utara.
Kami ke Maroko, mengenal Suku Berber. Setiap tahun, perempuan-perempuan Berber mengenakan kostum spesial dan pergi ke suatu perayaan di mana mereka dipilih sebagai pengantin.
Benua Afrika
Setelah itu kami ke Nigeria untuk bertemu dengan Suku Wodaab, mereka hidup dengan menggembalakan sapi dan domba di padang rumput kering, dekat Gurun Sahara.
Gurun Sahara adalah gurun yang terbesar di dunia. Gurun ini membentang di sepanjang Afrika Utara, dari Samudera Atlantik sampai ke Laut Merah. Sebagian besar Gurun Sahara tidak berpasir, melainkan berbatu dan berkerikil. Pada malam hari suhunya sangat dingin. Sahara adalah gurun kering yang sangat luas. Meski demikian ada beberapa tempat yang berair. Tempat yang berair ini disebut oase.
 Satu-satunya sungai yang melewatinya adalah Sungai Nil, sungai terpanjang di dunia. Di sekitar tepian sungai terdapat lahan pertanian.
Jika kita bepergian ke arah selatan, kita akan menjumpai daratan berumput. Di dekat pantai Afrika Barat terdapat hutan hujan.

Monday, December 13, 2010

karena Aku Merasa

 Negara tropis hujan enggan pergi, deraannya melunturkan panasnya kesombongan

Homeschooling ternyata Asyik (image diambil dr http://www.carikampus.com)
Hanya karena disepak dari sekolah dasar yang aku anggap top aku jadi merasa bahwa kau memang tidak pantas dengan semua sekolah dasar karena aku merasa kau paling aman belajar di pangkuanku dan di kelas yang tak terbatas.

Aku tidak akan menilaimu, aku tidak akan melabelimu hanya karena nilai hasil kerja kerasmu
Aku akan menceritakan tentang dunia tanpa mengguruimu.
Aku merasa dan yakin kau lebih layak menerima semua pelajaran yang kau ingin tahu yang ingin kau pelajari sungguh-sungguh.

Tidak ada yang salah dengan kita yang tidak memilih gedung sekolah, toh kita tetap mengenyam dunia pendidikan bersama.
Aku tidak mau kau belajar hanya karena besok akan ujian.
Dan kau tahu bahwa kelasmu tak terbatas, dunia bermainmu pun ajang belajarmu.

Jangan khawatir tentang nilai sayangku... Karena kau sudah bernilai.
Orang-orang yang menganggap kita berbeda itu adalah hal yang wajar
Kita pahami mereka
Kalaupun mereka tidak memahami kita itu tidaklah penting
Yang penting engkau paham dengan proses pembelajaranmu ini...
Kepakkan sayap keingintahuanmu itu,
Terbanglah bersama impianmu
Tidak ada yang tidak mungkin selama Allah Berkehendak...
Selamat Belajar...cintai proses belajarmu
karena aku merasa kau lebih dari sekedar berkilau kelak.
Amin

*Ditulis oleh seorang Ibu yang bukan sarjana yang nekad tapi penuh kasih memberi ruang sekolah bagi sang putra di pangkuannya* 

Wednesday, December 8, 2010

cerita hati: Semua Ilmu itu Penting tapi Kau Butuh Satu saja un...

cerita hati: Semua Ilmu itu Penting tapi Kau Butuh Satu saja un...: "*Negara Tropis didera hujan, tempaan deras airnya menghapus kesombongan* '1990-1994' Dunia Gelap Asli aku gak tau harus milih jurusan apa ..."

Guru Fisika yang kreatif & jenius itu telah tiada

Ketika melihat tayangan ini seingatku Daffa masih pertama kali homeschooling.
Malah Daffa pengen ketemu Pak Tjandra Heruawan kalau kami nanti pulang ke Malang kelak.
Ternyata belum sampai terjadi...Beliau sudah Berpulang.
Gayanya begitu bersahaja, selalu kreatif memancing cara berpikir anak didiknya.
Ternyata jalan hidupnya penuh liku.
Penuh dengan cerita kerasnya Beliau menghadapi tempaan ekonomi dan pandangan orang lain disekitarnya ternyata asahan Allah memang luar biasa mengubahnya bahkan membuat beliau jd beautiful people...

"The most beautiful people we have known are those... who have known defeat, known suffering, known struggle, known loss, and have found their way out of the depths. These persons have an appreciation, a sensitivity, and an understanding of life that fills them with compassion, gentleness, and a deep loving concern. Beautiful people do not just happen." -- Elisabeth Kübler-Ross"
Dan beliau salah satu dari sekian banyak beautiful people yang saya kenal.


Dan tempaan hidup yang sedemikian keras membuat beliau semakin bermurah hati membagi ilmunya.

Guru yang SANGAT BAIK adalah guru yang begitu jelas menerangkan mater...i dan telaten menghadapi beragam daya tangkap anak,bukan karena ditakuti.Dari Kick Andy aku jadi mengenal beliau dan aku ingin suatu saat jika aku pulang ke Malang,aku akan mengajak Daffa sowan ke ndalemnya Pak Tjandra Heruawan.Rencana Allah ternyata jauh lebih indah dari rencanaku tentang sowan ke Pak Tjandra Heruawan,beliau yang luar biasa ini sudah Dipanggil Allah terlebih dulu...
Seorang Einstein saja pernah mengatakan :
"Jika seseorang itu begitu mudah dimengerti penjelasannya maka dia benar-benar menguasai(paham) ilmu tersebut tapi sebaliknya jika dia menjelaskan dengan rumit berati dia belum cukup menguasai(memahami) ilmu tsb"


Gaya bicaranya yang khas Malangan (boso walikan) dan gaya bersahajanya bisa dilihat pas Beliau diundang Andy F Noya di acara Kick Andy.
Youtube diatas saya ambil dari "Kick Andy Setetes Embun di tengah Padang Gersang"
Judulnya mengena sekali memang Beliau laksana embun...
Guru Fisika yang jauh dari kesan killer
Guru Fisika yang jauh dari pandangan arogan bahwa fisika itu ilmu ekslusif...
Memang Beliau layak jadi lentera bagi murid & guru lainnya yang mau belajar terus.
Selamat jalan Pak H.Tjandra Heruawan Bsc.
*catatan Youtube lanjutan dari youtube ditas ada di disini

AddThis

Bookmark and Share