Sejak kecil bahkan bayi Daffa sudah menunjukkan tanda-tanda kalau dia lebih suka terjaga daripada tidur.
Tidur larut-nya itu jadi masalah buat aku, kalau ditidurkan siang dia pasti baru bisa tidur pukul 2 pagi, sudah tentu dia bangunnya pukul 9 pagi.
Sering kena omelan mamaku karena aku koq tidak bisa mengatasi atau mencari jalan keluar untuk masalah ini.
Beberapa cara sudah aku coba termasuk ngajak dia jalan menyusuri jalan sekitar tempat tinggal kami, bermain kejar-kejaran, melompat, mengepel lantai dan sebagainya.
Tapi tetap saja dia tidak ada capeknya.
Setelah mengerjakan beberapa worksheet, aku selalu mengajak dia bermain sampai capek (menurutku) tapi tetap dia segar bugar.
Sempat aku berpikir apa karena dia minum teh manis hangat, aku hilangkan kebiasaan meminum teh manis.
Aku biasakan dia minum air putih.
Hasilnya tetap saja.
Dan pencerahan baru dimulai 3 bulan ini.
Dia ikut latihan bela diri.
Hasilnya, dia mulai teratur dengan jam tubuhnya.
Aku juga sering bercerita tentang jam tubuh itu butuh waktu kita tidur untuk si tubuh melakukan tugas pembersihan.
Aku tersenyum lega, aku bisa mengatasi masalah yang ada meski butuh waktu.
Alhamdulillah.
Sebuah catatan kegiatan belajar-mengajar dari seorang Ibu yang mendidik murni putranya dengan "tanpa" pergi ke sekolah formal.Catatan ini sebagai gambaran nyata bahwa sekolah disamping seorang Ibu,Daffa di usia 9 tahun menjadi perjalanan yang indah dan memberi makna bahwa guru itu bisa berupa siapa saja yang kita temui.Bukan hanya si Ibu yang berperan sebagai guru tetapi Daffa pun sering "menjadi" guru dengan segala kepolosan dan ketulusannya.
Wednesday, May 23, 2012
Monday, February 20, 2012
Materi Baru
Negara tropis, sejuk dihampiri hujan yang sedang rajin berkunjung.
Begitu seringnya dapat pandangan aneh hanya karena kami tidak sekolah formal, membuat saya harus menerapkan materi baru untuk kami berdua.
Materi baru itu adalah belajar tentang menerima pandangan skeptis dengan damai.
Materi ini sudah 2 minggu ini uji coba.
Seperti apa materinya?
Sederhana saja, saya & Ananda Daffa harus membaca buku-buku motivasi dan rajin mendengarkan pengajian nya Ustd. KH Yusuf Mansur.
Minggu lalu kami membaca kisah-kisah kegigihan orang-orang yang dianggap aneh pada awalnya karena ide mereka yang tidak biasa.
Terus terang pada mulanya Daffa ogah-ogahan, tapi ya gitulah Mamanya pasang muka lempeng dan gak merasa sensi jadi menyuruhnya membaca.
Ajaib, satu halaman dia lalui tanpa senyum. Mamanya tetep pasang muka "harus baca".
Dua halaman dia lalui lalu sampai 30 halaman tanpa henti.
Materi ini sekarang jadi salah satu favoritnya.
Menjadi berbeda bukan berarti salah ( *inget banget Ines ngomong seperti ini ke aku ketika memulai HE*)
Dan Daffa sudah mulai bisa tidak merengek lagi pada saya tentang pandangan orang padanya...Kau memang berbeda anakku, karena kau istimewa. Dan semua ibu di dunia ini menganggap anaknya istimewa koq.
Tapi aku tidak begitu terlena, kau tetap harus mau diasah ya Nak.
Begitu seringnya dapat pandangan aneh hanya karena kami tidak sekolah formal, membuat saya harus menerapkan materi baru untuk kami berdua.
Materi baru itu adalah belajar tentang menerima pandangan skeptis dengan damai.
Materi ini sudah 2 minggu ini uji coba.
Seperti apa materinya?
Sederhana saja, saya & Ananda Daffa harus membaca buku-buku motivasi dan rajin mendengarkan pengajian nya Ustd. KH Yusuf Mansur.
Minggu lalu kami membaca kisah-kisah kegigihan orang-orang yang dianggap aneh pada awalnya karena ide mereka yang tidak biasa.
Terus terang pada mulanya Daffa ogah-ogahan, tapi ya gitulah Mamanya pasang muka lempeng dan gak merasa sensi jadi menyuruhnya membaca.
Ajaib, satu halaman dia lalui tanpa senyum. Mamanya tetep pasang muka "harus baca".
Dua halaman dia lalui lalu sampai 30 halaman tanpa henti.
Materi ini sekarang jadi salah satu favoritnya.
Menjadi berbeda bukan berarti salah ( *inget banget Ines ngomong seperti ini ke aku ketika memulai HE*)
Dan Daffa sudah mulai bisa tidak merengek lagi pada saya tentang pandangan orang padanya...Kau memang berbeda anakku, karena kau istimewa. Dan semua ibu di dunia ini menganggap anaknya istimewa koq.
Tapi aku tidak begitu terlena, kau tetap harus mau diasah ya Nak.
Sunday, February 19, 2012
Home education kami
Penjelasan Penuh Makna
T : Lho kamu homeschooling ya
J :Iya
T :Wah pinter dong
J :Gak juga, cuma berani aja
T : Terus gimana prosesnya
J : Panjang dan prosesnya ya kayak kamu juga koq
T : Lho aku gak homeschooling buat anak-anakku koq, apanya yang sama
J : Ya rasanya, biasa aja kayak orang belajar naik sepeda, begitu bisa ya naik aja mau kemana ya dateng aja ndak perlu ikut-ikutan kemauan orang lain.
T : Ooo jadi kamu juga merasakan resah ku tentang ini anakku gimana besok gitu ya
J : Iya lah gak perlu bohong tentang itu tapi aku sudah damai gak ribut memaksa anakku.
T : Lha anak-anak kan harus diarahkan
J : Diarahkan itu beda dengan dipaksa lho
T : Ya demi disiplin
J : Disiplin itu diresapi kegunaannya bukan dipaksa untuk membentuk malah buyar pas lepas dari sistem
T : Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya ini aku harus ngantar anakku les science buat ikut olimpiade.
J : O silahkan semoga itu pilihan anakmu
T : Ini dia dipilih gurunya karena ankku pinter nilai sciencenya bagus
J : Anakmu rajin dan kemauan sendiri ikut les-nya kan ?
T : Ya enggak juga, kadang ya aku paksa kalau dia malas.
J : Ooo, semoga sukses ya.
Ini Tanya jawab tentang homeschooling dan sekolah tanpa merendahkan satu dan lainnya.
Cuma obrolan.
Ditulis oleh penjawab dari tanya di atas, seorang ibu yang cuma lulusan Diploma ekonomi UB yang tidak ikut-ikutan role model apa untuk home education putranya, tidak banyak berteori tapi banyak langsung mempraktekan bagaimana home education dengan segala perjuangannya.
Kita sama-sama berjuang.
T : Lho kamu homeschooling ya
J :Iya
T :Wah pinter dong
J :Gak juga, cuma berani aja
T : Terus gimana prosesnya
J : Panjang dan prosesnya ya kayak kamu juga koq
T : Lho aku gak homeschooling buat anak-anakku koq, apanya yang sama
J : Ya rasanya, biasa aja kayak orang belajar naik sepeda, begitu bisa ya naik aja mau kemana ya dateng aja ndak perlu ikut-ikutan kemauan orang lain.
T : Ooo jadi kamu juga merasakan resah ku tentang ini anakku gimana besok gitu ya
J : Iya lah gak perlu bohong tentang itu tapi aku sudah damai gak ribut memaksa anakku.
T : Lha anak-anak kan harus diarahkan
J : Diarahkan itu beda dengan dipaksa lho
T : Ya demi disiplin
J : Disiplin itu diresapi kegunaannya bukan dipaksa untuk membentuk malah buyar pas lepas dari sistem
T : Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya ini aku harus ngantar anakku les science buat ikut olimpiade.
J : O silahkan semoga itu pilihan anakmu
T : Ini dia dipilih gurunya karena ankku pinter nilai sciencenya bagus
J : Anakmu rajin dan kemauan sendiri ikut les-nya kan ?
T : Ya enggak juga, kadang ya aku paksa kalau dia malas.
J : Ooo, semoga sukses ya.
Ini Tanya jawab tentang homeschooling dan sekolah tanpa merendahkan satu dan lainnya.
Cuma obrolan.
Ditulis oleh penjawab dari tanya di atas, seorang ibu yang cuma lulusan Diploma ekonomi UB yang tidak ikut-ikutan role model apa untuk home education putranya, tidak banyak berteori tapi banyak langsung mempraktekan bagaimana home education dengan segala perjuangannya.
Kita sama-sama berjuang.
Ini Hasilnya (masih awal banget)
Negara tropis, hujan badai datang tak menentu, damai syahdu dalam Rahmat Allah Semata.
3 Bulan ber-EF
ini hasilnya secarik kertas yang masih sangat tiada artinya dengan hamparan ilmu yang Mas Daffa harus pelajari.
Ini hanya secarik kertas...saat itu harganya per paket dgn waktu tempuh belajar 3 bulan seminggu 2 kali pertemuan dan beberapa kali terhalang hujan badai adalah Rp 1.350.000.
Masih banyak hal yang harus dipelajari, masih banyak latihan-latihan yang harus dipelajari Mas Daffa.
Aku tidak bisa berkutik kalau Mas Daffa sudah duduk diam melihat detail film kuno Karate Kid 1-3 punya Bapak Ralph Machio, dia bisa hapal semua dialognya.
Dan aku harus terima dengan lapang dada kalau cara belajar Mas Daffa begitu.
Mas Daffa harus banyak membaca ya Nak
muuaahhh
Mama sayang kamu
3 Bulan ber-EF
ini hasilnya secarik kertas yang masih sangat tiada artinya dengan hamparan ilmu yang Mas Daffa harus pelajari.
Ini hanya secarik kertas...saat itu harganya per paket dgn waktu tempuh belajar 3 bulan seminggu 2 kali pertemuan dan beberapa kali terhalang hujan badai adalah Rp 1.350.000.
![]() |
| Program ini yang ananda ambil |
Masih banyak hal yang harus dipelajari, masih banyak latihan-latihan yang harus dipelajari Mas Daffa.
Aku tidak bisa berkutik kalau Mas Daffa sudah duduk diam melihat detail film kuno Karate Kid 1-3 punya Bapak Ralph Machio, dia bisa hapal semua dialognya.
Dan aku harus terima dengan lapang dada kalau cara belajar Mas Daffa begitu.
![]() |
| Ini secarik kertas itu dan isinya |
muuaahhh
Mama sayang kamu
Tuesday, September 13, 2011
Sepenggal Catatan Bantahan untuk yang Mengatakan Homeschooling Itu Gak Asik
Negara Tropis Dihempas Banyak Angin Kesejukan Meski Didera Panas.
Sempat tidak posting beberapa kegiatan Daffa karena saya sibuk membereskan banyak hal, dan ternyata gak beres-beres juga alias sok sibuk karena ketambahan murid baru di kelas taman bermain, siapa lagi kalau bukan Menara.
Kegiatan Daffa penuh dengan jadwal yang dia buat dan terkesan seenaknya sendiri kalau dilihat hanya dengan mata telanjang, tanpa merasakan kemajuan komunikasinya, tanpa merasakan cara dia mengatasi masalah dan sikap dewasanya dianggap bukan asahan dari Homeschooling sama mamanya ini *ngamuk.com*.
Kalau mau mereka (yang maksa Daffa supaya sekolah formal lho ya) membuka mata mestinya merasa kalau kemajuan Daffa luar biasa, cara dia yang mengemong Menara, bahkan menenagkan papanya ketika panik dan bersikap menerima apa adanya, mereka pasti sadar.
Aku sempat senewen hanya karena Daffa dianggap seenaknya sendiri hanya karena bangunnya seringkali siang, padahal semalaman dia belajar dengan riang bagaimana listening English via lagu favoritnya, belajar mengotak-atik pemindahan data dari komputer ke handphone-nya atau sebaliknya.
Sisanya aku baru sadar bahwa untuk memisahkan emas dari logam yang lainnya butuh suhu yang tinggi, artinya ini semua tempaan yang kami hadapi untuk lebih baik.
Kesenewenanku terbayar begitu mengetahui hasil replacement test Daffa di EF, anak tanpa sekolah formal ini biosa disejajarkan dengan anak SMP kelas akhir, aku tersenyum penuh syukur, ternyata Allah menyapaku dengan caraNya yang indah diawali dengan kemampuanku yang diragukan dan aku tidak membantah sedikitpun meski awalnya sedih ternyata jawaban akhirnya indah.
Jadi ini bantahanku untuk yang mengatakan homeschooling kami gak jalan, homeschooling kami gak asik bla bla bla, yang penting bagi kami ada hasil yang bisa dibanggakan.
Daffa, maju terus Nak, kamu luar biasa. Mama Loves You, Dear....
Sempat tidak posting beberapa kegiatan Daffa karena saya sibuk membereskan banyak hal, dan ternyata gak beres-beres juga alias sok sibuk karena ketambahan murid baru di kelas taman bermain, siapa lagi kalau bukan Menara.
Kegiatan Daffa penuh dengan jadwal yang dia buat dan terkesan seenaknya sendiri kalau dilihat hanya dengan mata telanjang, tanpa merasakan kemajuan komunikasinya, tanpa merasakan cara dia mengatasi masalah dan sikap dewasanya dianggap bukan asahan dari Homeschooling sama mamanya ini *ngamuk.com*.
Kalau mau mereka (yang maksa Daffa supaya sekolah formal lho ya) membuka mata mestinya merasa kalau kemajuan Daffa luar biasa, cara dia yang mengemong Menara, bahkan menenagkan papanya ketika panik dan bersikap menerima apa adanya, mereka pasti sadar.
Aku sempat senewen hanya karena Daffa dianggap seenaknya sendiri hanya karena bangunnya seringkali siang, padahal semalaman dia belajar dengan riang bagaimana listening English via lagu favoritnya, belajar mengotak-atik pemindahan data dari komputer ke handphone-nya atau sebaliknya.
Sisanya aku baru sadar bahwa untuk memisahkan emas dari logam yang lainnya butuh suhu yang tinggi, artinya ini semua tempaan yang kami hadapi untuk lebih baik.
Kesenewenanku terbayar begitu mengetahui hasil replacement test Daffa di EF, anak tanpa sekolah formal ini biosa disejajarkan dengan anak SMP kelas akhir, aku tersenyum penuh syukur, ternyata Allah menyapaku dengan caraNya yang indah diawali dengan kemampuanku yang diragukan dan aku tidak membantah sedikitpun meski awalnya sedih ternyata jawaban akhirnya indah.
Jadi ini bantahanku untuk yang mengatakan homeschooling kami gak jalan, homeschooling kami gak asik bla bla bla, yang penting bagi kami ada hasil yang bisa dibanggakan.
Daffa, maju terus Nak, kamu luar biasa. Mama Loves You, Dear....
Saturday, May 21, 2011
O Jadi Seperti itu Sekolah Favorit Ya
Negara Tropis, panas tapi berubah jadi sejuk ketika aku mulai tahu pola pikir Daffa.
Daffa tanya tentang sekolah favorit itu apa setelah tahu beberapa temannya yang SD sedang dipingit ortu mereka masing-masing karena mau ujian.
“Ma, sekolah favorit itu apa ya Ma?”, tanyanya santai dan polos.
Aku menjelaskan bahwa anak-anak yang akan menghadapi ujian itu harus dipersiapkan dengan menuntut mereka belajar lebih banyak dan harus menguasai materi yang akan diujikan supaya dapat nilai bagus dan bisa masuk sekolah favorit, sekolah yang diidam-idamkan banyak orang karena murid-muridnya yang masuk nilai-nilanya bagus-bagus.
Dan mulailah pertanyaan tak terduga bahkan kesimpulan yang menurutku di luar dugaan muncul dari Daffa, begini :
“O jadi sekolahan yang menjadi favorit itu sekolah yang hanya menerima anak-anak yang punya nilai hasil ujian yang baik gitu ??? itu bukan sekolahan favorit Ma, itu sekolahan malas, bukannya semua anak itu berhak memilih sekolah, kan dari sekolah itu jadi pinter, yang bodoh jadi pintar, kan tugasnya guru menerima semua murid yang ingin sekolah di situ, ANEH YA MA”.
Kesimpulan dari Daffa yang masih umur 10 tahun 6 bulan tentang sekolah favorit dan syarat-syarat untuk bersekolah di situ.
Terus aku tanya balik ke Daffa :
“Jadi menurutmu sekolah favorit itu seperti apa ?”, tanyaku sambil nahan geli dan pengen meluk-meluk cium saking gemesnya aku padanya hihihi :D
Terus dia jawab :
“Sekolah favorit itu adalah sekolah yang bisa membuktikan dengan menghasilkan anak-anak yang nilai ujiannya jelek itu punya kemampuan terbaik di bidang yang lain atau malah bisa memperbaiki nilai jelek anak itu gitu lho Ma”.
SELESAI sudah sesi pembahasan sekolah favorit yang ternyata bukan favorit sejati.
Tuesday, May 10, 2011
Belajar dengan Penuh Minat itu Ajaib
Anak-anak yang menjalani homeschooling selalu siap uji artinya begini, Daffa selalu diuji secara lisan oleh seseorang yang bertanya dia kelas berapa dan bersekolah di mana setelah menjawab bahwa dia tidak sekolah formal dan dia berhomeshooling.
Maka mulailah Daffa menjalani ujian lisan, hehehe.
Dan aku salut pada jiwa sportifnya Daffa, dia akan menjawab tidak bisa dan belum belajar tentang hal itu kalau ditanya tentang hal yang memang dia belum tahu dan belum belajar tentang hal yang ditanyakan seseorang itu dan hal ini malah menguntungkan Daffa, dia malah belajar dengan proaktif, Daffa tidak menjawab seperti anak yang bersekolah formal kebanyakan, anak-anak sekolah formal kalau aku tanya tentang hal yang memang mereka belum bisa maka jawabannya seperti ini, “Saya belum DIAJARI….”.
Mestinya jawab saja saya belum belajar tentang hal itu. Dari jawaban mereka saya jadi tahu bahwa belajar secara mandiri dengan segala keingintahuan itu jauh lebih baik karena menghindarkan dari ketergantungan untuk DIAJARI.
Saya kadang ingin juga menguji anak-anak yang bersekolah formal tapi saya sudah terlalu kenyang dengan jawaban : "Saya belum DIAJARI blablabla... atau di sekolah belum diajari tentang itu...". Selalu begitu jawabannya dan jawaban itu ajaib seperti seragam.
Belajar dengan bahan yang biasa disediakan tanpa dipancing untuk menggugah keingintahuan mereka itu bahaya, membuat mereka kelak memahami ilmu secara terpaksa, sampai jenjang tinggi jadi DISUAPI bahan yang harus dipelajari.
Daffa belajar Bahasa Inggris juga secara langsung melalui youtube, dia menyimak pronounce dan tulisan dengan penuh minat serta serius. Begitu pula dia belajar banyak bagaimana membaca peta dan mengenal negara lain dari buku dan tayangan National Geography. Memang kami tidak memakai semua kurikulum seperti anak-anak yang bersekolah dasar lainnya. Dan itu tidak apa-apa kan ??? hihihi
Daffa belajar bahasa asing dengan begitu cepat, dia juga belajar matematika sewajarnya, pada umumnya. Beberapa kali pernah Daffa menghadapi ujian yang tidak mutu (hihihi sewot emaknya) dari orang yang tahu kalau Daffa homeschooling. Begini ceritanya : “Daffa homeschooling ya?”, tanyanya sok akrab dan senyum licik. Daffa mengangguk percaya diri. “Ok, kalau gitu 2011 X 4231 berapa hayo ?”, tanya si orang sok akrab ini. Daffa menjawab dengan tegas : “Coba Om hitung aja pakai calculator kalau Om kasih waktu saya ya saya hitung dulu, boleh pinjam kertas dan bolpoin?”, jawab anakku tegas. Memang bukan hasil perkalian yang dia jawab tapi cara mempergunakan calculator dia sebutkan sebagai jawaban dan anakku sportif juga kalau dia diberi waktu menjawab ya dia minta dipinjami kertas dan bolpoin untuk menghitung secara manual. Lucu-lucu orang yang menguji Daffa seakan mereka menguji keegoan mereka sendiri. Homeschooling bukan sulapan, Daffa berproses dengan begitu terbuka terhadap pendidikannya melalui homeschooling kenapa mesti ditodong hasilnya seperti magic saja oleh orang-orang yang cuma ingin mencari kelemahan pendidikan mandiri yang sebenarnya mereka inginkan. Hihihi lucu.
Homeschooling itu mendukung anak-anak untuk belajar dengan penuh minat secara mandiri . Menghasilkan keajaiban yaitu anak-anak riang dan begitu tertanam kuat pengetahuan yang dia dapat.
Subscribe to:
Posts (Atom)

